Usia berapa idealnya anak diajak berkunjung ke dokter gigi?
Menurut artikel-artikel yang saya baca di internet, sebagai emak milenial yang
hampir sebagian informasi didapat dari internet, ketika gigi anak pertama kali
tumbuh, berarti sudah saatnya untuk berkunjung ke dokter gigi.
Kita nggak perlu menunggu gigi susu tumbuh lengkap, baru ke
dokter gigi. Apalagi menunggu saat ada masalah pada gigi susu, seperti lubang
gigi, karies atau gigis, dan masalah gigi lainnya yang membuat anak merasa nggak
nyaman.
Namun, terkadang mengajak anak berkunjung ke dokter gigi itu
susah-susah gampang. Membayangkan peralatan dokter gigi plus bunyi bor saja
sudah membuat suasana bathin jadi horor.
Sedikit cerita pengalaman pribadi saya waktu SD, ketika ada
petugas puskesmas yang datang inspeksi mendadak ke sekolah untuk memeriksa
gigi, saya terjaring "razia" karena gigi saya ada yang berlubang. Semua anak yang
giginya bermasalah, dijadwalkan datang ke puskesmas besok harinya. Saya,
teman-teman dan didampingi seorang guru berangkat ke puskesmas pada hari yang
telah dijadwalkan.
Sesampainya di sana, kami dipanggil sesuai urutan nama. Satu
persatu teman selesai dilakukan tindakan pada gigi mereka. Tibalah giliran saya
dipanggil dan dilakukan tindakan pada gigi saya. Apa yang terjadi di ruang
periksa? Saya nangis kejer, sodarah sodarah.
Jangankan untuk duduk anteng di kursi periksa, membuka mulut
saja saya enggak mau. Saya tetap menangis. Bahkan, dokter dan perawat pun sudah
mencoba membujuk saya tapi tetap tidak berhasil. Akhirnya dokter men skip
giliran saya karena saya nggak berhenti nangis. *duuh, maafkan saya yang dulu
ya, dokter*
Ok, kembali ke cerita balita ke dokter gigi.
Sebenarnya sudah lama saya ingin mengajak Zi ke dokter gigi
karena gigi seri atasnya yang sudah menunjukkan ciri - ciri gigis. Tapi sayanya yang mikir maju mundur tanpa cantik *apasih* untuk mengajaknya ke dokter
gigi.
Kenapa? Karena saya harus menguatkan mental mendampingi Zi
untuk ke dokter gigi. Saya parno duluan kalau ingat bunyi bor dokter gigi. Sekalian
sounding ke anak dan juga diri sendiri melalui buku cerita tentang dokter gigi
dan kegiatan di ruang periksa.
Setelah beberapa minggu, saya dan Zi pergi ke klinik Petanu
Medical Center. Mengapa memilih klinik tersebut? Ya, karena klinik tersebut
merupakan Faskes tingkat 1 kami sekeluarga selaku pasien pemakai BPJS. Kalau
ada pengobatan dan perawatan gratis, ngapain pilih yang berbayar? *emak emak
mode on*.
Sebenarnya BPJS ini gak gratis juga, kan? Ada biaya yang
harus kita bayar per bulannya sesuai kelas yang kita ambil. Walaupun nggak
gratis, tapi lumayan juga kan kalau treatment gigi ke dokter dengan biaya pribadi?
wkwk
Setelah melakukan pendaftaran dan mendapat nomor antrian,
akhirnya tibalah giliran Zi diperiksa. Sesungguhnya saya yang deg-degan,
khawatir kalau Zi bakal nangis atau ketakutan saat diperiksa dokter. Siapa tahu
dia mewarisi sifat saya yang takut ke dokter. Saya yang kempang kempis nahan
napas menemaninya.
Begitu masuk ruangan, dokter kenalan dulu dengan menanyakan
nama, tinggal dimana. Mungkin ini merupakan cara untuk menyambut pasien anak
agar tidak tegang atau takut bertemu dokter, lalu menanyakan keluhannya. Saya
bilang ingin memeriksa gigi seri bagian atas Zi yang sudah mulai terkikis dan
keluhan ngilu di gigi.
"Tante boleh lihat giginya?" Begitu dokter muda
itu menyapa.
"Boleh", kata si bayik 4 tahun, sambil mengangguk
"Yuk, naik ke kursi periksa, yuk", kata dokternya
"Yuk, naik ke kursi periksa, yuk", kata dokternya
Zi pun langsung melenggang ke kursi periksa dengan semangat. Dia excited banget dengan kursi astronot itu. Kursi periksanya bisa dinaikkan dan diturunkan, lho. Benar-benar sesuai dengan ilustrasi di buku yang sering kami baca di rumah.
Setelah dicek, gigi seri Zi memang mengalami gigis dan harus
di tambal. Setelah mengatur posisi kursi dan lampu yang pas, dokter pun
meminta Zi tersenyum lebar agar proses penambalan bisa dilakukan.
Saya makin deg-degan ketika dokter dan perawat sudah siap
beraksi dengan bor dan alat kecil yang ujungnya runcing. Pikiran saya dihantui
hal negatif, bagaimana kalau nanti rasa excitednya tetiba berganti dengan rasa
takut? Bagaimana kalau nanti anaknya nangis kejer saat alat-alat itu masuk ke
mulutnya, bagaimana kalau ia berontak saat dilakukan penambalan?
Mulut saya komat-kamit berdo’a agar tambal gigi berjalan lancar.
Ternyata apa yang terjadi? Dia tampak kooperatif tanpa
pemberontakan, tanpa tangisan dan rengekan walau kelihatan sedikit worry.
Setelah 20 menit, gigi seri atas selesai ditambal.
Dokternya sempat bilang ke saya,
"Jarang jarang lho, Bu, anak kecil bisa diam anteng di kursi periksa kaya begini. Biasanya mereka nangis, atau takut kemudian dipangku sama ibunya duduk di kursi periksa. Adeknya berani ya".
"Jarang jarang lho, Bu, anak kecil bisa diam anteng di kursi periksa kaya begini. Biasanya mereka nangis, atau takut kemudian dipangku sama ibunya duduk di kursi periksa. Adeknya berani ya".
Anaknya tersenyum bangga. Dia senang banget, semua orang
dipamerin gigi barunya.
Yeay, mission accomplished!
Pengalaman pertama ke dokter gigi balita umur 4 tahun sukses
tanpa drama, tanpa trauma. Alhamdulillah. Ternyata, Mak nya aja yang parno,
anaknya mah selow wae.
Jika ibu-ibu ingin atau berencana untuk memeriksakan
putra/putrinya ke dokter gigi, mungkin beberapa tips ini bisa membantu.


EmoticonEmoticon