Perbedaan Orang Indonesia dan Bule dalam Berbelanja
Rahma Weni -- Kalau saya perhatikan ada beberapa
perbedaan yang cukup mencolok antara orang kita (Indonesia) dengan orang luar
(Bule) dalam berbelanja, khususnya dalam gaya dan sikapnya kepada penjual.
Sebagai mantan guru Bahasa Inggris yang
akhirnya berubah haluan menjadi mompreneur, iya, saya tersesat menjadi
mompreneur setelah punya anak karena tidak mengantongi izin dari suami untuk
mengajar lagi. Sebagai istri over sholehah, yang beratnya lebih dari 55, saya pun manut. Haha. *benerin jilbab, dulu*
Dengan pengalaman yang baru seumur
jagung dalam mengelola usaha dan melayani customer, saya pun menyimpulkan
beberapa perbedaan sikap dan gaya (calon) pembeli. FYI, saya membuka usaha
jualan yang bergerak di bidang safety riding, helm dan segala kelengkapan
berkendara yang berlokasi di Bali. Sebagai salah satu daerah destinasi wisata,
dapat dikatakan bahwa lebih dari 50 persen pembeli yang datang ke toko untuk
belanja adalah bule dan sisanya adalah warga lokal (Indonesia).
Apa saja perbedaan yang mencolok antara
bule dan orang kita dalam belanja?
1. Tawar-Menawar
Orang kita mah paling jago buat
nawar, ye kan? Belanja kalau nggak nawar itu rasanya kurang afdhol. Sebagai komunitas
emak-emak yang suka menawar, saya pun sering melakukannya. Haha. Tapi, kalau
nawar mah jangan kayak Afgan, sadis, gitu. Kadang malah ditawar di bawah harga modal
yang kita dapat dari supplier. Mbok ya kalau nawar itu sewajarnya aja, jangan
sadis.
Kalau bule ada juga sih yang doyan
menawar, tapi mereka hanya minta persetujuan penjual untuk minta diskon, “Any
discount for me?” Kalau bisa diturunkan harganya, paling di diskon sekian
persen saja dari harga jual yang disebutkan.
2. Quality Check
Orang kita kalau belanja, semuanya
diperiksa, diteliti sampai ke dalam-dalamnya kalau ada yang rusak, gores, bahkan
luarnya pun gak boleh kena jejak jari tangan. Kalau ada yang baru, masih
disimpan di dusnya, belum pernah dicobain orang, masih mulus bagian luarnya itu
yang diinginkan. Kalau gores atau ada bercak, mereka batal beli. Ya, naluri
juga sih sebenarnya memastikan barang yang kita beli dalam keadaan yang bagus
dan OK. Orang kita memastikan semuanya, mengecek kualitas luar dan dalamnya
secara teliti dan seksama. Memilih barang yang akan dibeli sama kek milih suami,
harus dicek semuanya. *saya terlalu lebay*
Kalau bule yang belanja kebanyakan
mereka nggak terlalu peduli dengan tampilan luarnya. Pun, kalau gores mereka
nggak terlalu ambil pusing selama itu nggak mengurangi nilai safety nya. Mereka
jarang sekali yang mengulik barang sampai ke dalamnya atau memeriksa
detailnya. Selama mereka nyaman memakainya, memenuhi standar safety, dan
harganya cocok menurut mereka, ya mereka bakalan beli.
Sebagai penjual yang amanah, saya
pun akan jujur tentang kualitas barang, kalau ada yang rusak atau gores pun, saya
nggak nutupin dari bule yang terkesan nggak teliti ini, supaya kita sama-sama
dapat keberkahan dari hasil akad jual beli.
Baca juga:
Masya Allah, 7 Amalan Kecil ini Datangkan Pahala yang Besar
Windows 10 Lemot di PC mu? Lakukan Cara ini untuk Mempercepatnya
3. Basa-Basi
Orang kita kalau belanja, lalu
nggak jadi karena berbagai hal, bisa jadi karena nggak cocok harganya atau
nggak ada stoknya, biasanya langsung melipir pergi. Kemaren ini ada 2 orang
remaja ABG yang datang belanja, lalu setelah pilih-pilih dan nyobain lalu
nanyain warna putih, karena stok warna putiih lagi kosong, jadinya mereka batal
beli, ‘kan? Nah, apa yang mereka lakukan? Mereka langsung melipir tanpa bilang
apa-apa pada saya. Kebayang ‘kan betapa ngenesnya saya ditinggal pergi tanpa
sepatah kata pun? Haha.
Saya nggak memaksa mereka untuk
membeli warna yang nggak mereka suka sih, at least bilang terimakasih atau
sorry atau apalah sebagai penutup basa-basi, jangan langsung pergi begitu aja.
Kalau bule yang datang belanja lalu
nggak jadi, at least mereka bilang, “Thank you” sambil membungkukkan badan dan mempertemukan
kedua tangannya atau mereka bilang, “I’ll think ‘bout it”, “I’ll be back” I’ll
come back” atau sejenisnya, walaupun mereka nggak jadi datang keesokan harinya,
tetapi mereka tetap berbasa-basi. Ya, walaupun nggak semuanya sih
orang kita dan bule yang belanja kaya gini
4. Cash VS Card
Orang Indonesia kebanyakan melakukan transaksi langsung dengan uang cash. Kalau bule umumnya mereka lebih prefer pakai kartu daripada uang cash. Di sini saya sangat membutuhkan peran EDC sebagai alat yang bisa membantu kelancaran transkasi dengan bule.
Tulisan ini bukan bermaksud untuk
mendiskreditkan pihak-pihak tertentu, baik orang Indonesia atau bule.
Penggunaan istilah bule dan orang kita atau orang lokal juga bukan sebuah
generalisasi bahwa semua bule atau orang Indonesia bersikap demikian. Tulisan
ini hanyalah sekeping cerita dan catatan pengamatan saya selama beberapa bulan
ini. Boleh jadi, orang lain punya pengalaman yang berbeda dengan saya.
,

EmoticonEmoticon