Pengalaman Melahirkan Secara Normal
Rahma Weni --- Saya adalah tipe orang yang sangat
takut berhadapan dengan dokter, rumah sakit dan segala jenisnya. Apalagi sebagai perempuan, ketakutan terbesar
saya adalah saat melahirkan. Dalam benak saya terbayang rasa sakit yang amat
sangat menyakitkan. Ketakutan ini disebabkan apa? Yap, karena sinetron-sinetron
yang pernah saya tonton. Digambarkan di sinetron itu betapa sakitnya
melahirkan, sampai-sampai pemeran wanitanya berteriak histeris menahan sakit. Iya,
dulu waktu kecil saya suka nonton sinetron bahkan sering numpang nonton tv ke
rumah sebelah agar bisa menyaksikan kelanjutan sinetron yang kemaren, tapi
sekarang saya sudah tobat, nggak pernah lagi nonton sinetron. Gimana mau
nonton, tv aja nggak punya. Sejak punya anak kami memutuskan untuk tidak
memiliki televisi di rumah. Kami memang orang tua anti mainstream. Haha
Selaain karena sinetron yang
menayangkan proses persalinan yang menyakitkan
ditambah lagi dengan cerita dari mulut ke mulut tentang proses
melahirkan makin membbuat nyali saya menciut dan takut melahirkan. Hingga sampai saat saya menikah pun ketakutan
itu masih setia tersimpan di pikiran. 2 tahun setelah menikah saya positif
hamil. Bahagianya luar biasa saat itu tapi di sisi lain ada rasa ketakutan yang
menari-nari.
Alhamdulillah, kehamilan berjalan
normal dan lancer tanpa masalah-masalah yang serius. Keluhan saya semasa hamil
berupa pusing, lemas, dan mual, biasa yang terjadi pada ibu hamil. Mendekati
hari prediksi kelahiran yang dijadwalkan tanggal 5 Mei 2015, saya masih belum
ada tanda-tanda mau melahirkan. Orang tua saya mengatakan bahwa kelahiran bayi
itu bisa maju dari HPL, kadang juga bisa mundur dari perkiraan. Biasanya kalau
anak yang dikandung laki-laki maka ia akan lahir lebih awal dari HPl, namun jika
bayi yang dikandung perempuan, maka kelahirannya akan mundur dari HPL yang
sudah dihitung”, begitu kata orang tua saya. Mendengar statement orang tua,
saya jadi nggak terlalu mengkhawatirkan HPL yang sudah lewat beberapa hari.
Banyakin aktivitas fisik aja, seperti jongkok berdiri, pesan orang tua. Saya
manut aja, nggak tahu apa tujuannya saat itu. haha
Sebelum Melahirkan
Tanggal 9, saya merasa ada sesuatu
yang tak biasa,ada air seperti air seni
yang tiba-tiba keluar tanpa disadari.Besoknnya saya periksa ke bidan, di cek pakai kertas
lakmus. katanya yang keluar bukan air ketuban. Mungkin karena BBJ yang besar
sehingga ruang geraknya terbatas dan menindih kandung kemih”, begitu tutur
bidannya. Kemudian dilakukan pemeriksan dalam, baru pembukaan 1. Sementara HPL
sudah lewat. Saya disuruh pulang dengan diresepkan
obat. Esoknya, kontraksi sudah mulai terasa dari siang. Perut mulas dengan
intensitas yang ringan dan jedda waktu yang lumayan lama.Sementara air masih
keluar merembes. Semakin sore semakin sering terasa kontraksi sampai malam hari
kontraksi semakin hebat. Bahkan saya sampai berkeringat dingin menahan sakit. Malamnya,
jam 8 setelah isya, keluar darah dan air merembes lalu saya langsung ke
Puskesmas.
Sampai di puskesmas masuk ke ruang
bersalin dan diperiksa lagi, pembukaan 2
dengan diagnosa ketuban rembes. Saya makin takut dan cemas. Takut akan seramnya
proses persalinan, takut dengan diagnose bidannya. Saya disuruh istirahat di
tempat tidur sambil diobservasi bidan. “Jika tidak ada kemajuan pembukaan
sampai jam 12 malam ini, maka pasien akan kami rujuk ke Rumah Sakit karena ketuban
sudah rembes dan HPL sudah lewat”, begitu penjelasan bidan. Perasaan saya
semakin tak menentu, terbayang dokter, rumah sakit, ruang operasi di pikiran
saya. Hanya 1 hal yang bisa dilakukan saat itu, berbaring sambil istighfar.
Secara berkala pembukaaan dicek, Alhamdulillah
ada kemajuan dari yang awalnya 2 meningkat ke 4, lalu ke 7. Itu artinya saya
nggak jadi dirujuk ke RS. Kadang sakitnya datang, kadang pergi. Saat datang, rasanya sampai nggak bisa nafas. Jam 2.30
sdinihari, mulas semakin kuat dan sering, dicek pembukaan Alhamadulillah sudah
lengkap.Semua peralatan tempur disiapkan bidan, instruksi pun dimulai. saat mengejan jangan merem, lihat ke perut. Ketika mengejan pertama, bayi keluar kepalanya saja. mengejan kedua keluar dengan sempurna. "sudaaah", kata bidannya. Akhirnya legaaaa. Tangisan bayi membuat saya mengucap syukur. tepat jam 3 dinihari, bayi saya lahir ke dunia dengan berat 3 kg dan panjang 51 cm. Dengan kondisi mata minus 3, saya bisa melihat bayinya dibersihkan dengan samar-samar.
Setelah dibersihkan, dilakukan IMD.
Masya Allah begini rasanya. Setelah bayi dibersihkan, giliran membersihkan plasenta, perut diuyel-uyel rasanya ngiluuu.
Setelah Melahirkan
Tak lama setelah IMD, drama masih berlanjut. Drama yang tak kalah sakit dari yang sebelumnya, dijahit. Saya dijahit karena tadi
bidan melakukan episiotomi. Rasanya? Wow banget. Dijahit tanpa dibius. Saya merasakan
setiap tusukan-tusukan jarum dan benang yang ditarik-tarik dalam keadaan sadar.
2 hari di Puskesmas, saya diizinkan
pulang karena kondisi saya dan bayi
sehat. Alhamdulillah

EmoticonEmoticon