Pengalaman Pertama Tambal Gigi
![]() |
| Pengalaman Pertama Tambal Gigi |
Hallo, apa kabar sobat semua? Semoga sehat selalu ya, gak ada yang sakit apalagi sakit gigi. Fyuh, kalau boleh memilih mending sakit hati daripada sakit gigi, eh enggak dink, lebih baik gak dua-duanya, gak sakit hati dan gak sakit gigi juga. Maunya. Haha.
Eh, tapi beneran deh kalau sakit gigi itu rasanya gak
karuan banget. Pas udara panas sakitnya kambuh apalagi udara dingin seperti
sekarang frekuensi sakitnya makin sering muncul. Sialnya lagi sakitnya sering
kumat malam hari. Sakitnya kadang bikin saya nangis sampai gak bisa tidur.
Hidup terasa sendiri, punya pacar (suami) pun terasa jomblo. Sakit gigi itu
sungguh sangat menyiksa, Jenderal!
Nah, berawal dari sakit gigi yang sangat menyiksa ini, saya akhirnya ke
dokter gigi setelah acara “ntar sok, ntar sok”.
Kalau lagi sakit gigi, tekad untuk ke dokter gigi semakin kuat dan
menggebu-gebu, “ntar kalu udah gak sakit gigi lagi, mau ke dokter aja” begitu
janjinya. Tapi, apa yang terjadi setelah gigi udah nggak nyut-nyut lagi? Janji
tinggal janji. Haha
Kalau sakitnya kumat lagi setelah beberapa
minggu, janji lagi buat benar-benar ke
dokter. Kalau udah sehat, lupa lagi sama janjinya. Begituuu aja teroos sampai
Upin Ipin Wisuda dari Tadika Mesra. Semacam “Tobat Sambalado” begitu kira-kira
ungkapannya dalam bahasa daerah saya. Please, yang ini jangan pernah
dicontoh.BHA HA YHAA
Kenapa pakai alasan “ntar sok, ntar sok”? Karena
kengerian saya berhadapan dengan dokter. Jujurly, saya orang yang takuut banget
kalau ke dokter. Pain tolerance saya sangat amat rendah. Duuh, kalau begini
jadi malu sendiri.Udah umur kepala 3, masih aja takut ke dokter. Makanya saya
menanamkan konsep “dokter itu baik” ke anak saya melalui buku cerita. Biar
nanti anak saya gak takut saat ke dokter. Dan ini terbukti manjur. Ketika Zifa
saya ajak ke dokter gigi untuk memeriksa gigi, sama sekali dia gak takut, malah
ketagihan untuk periksa di dokter gigi. Bisa baca di sini pengalaman saya
membawa balita ke dokter gigi. Bisa baca Tips mengajak Balita ke dokter gigi di sini
Okay, back to the topic!
Sampai suatu hari saya benar-benar bertekad ke dokter
gigi untuk memeriksakan gigi yang sakit. Gigi geraham bawah saya harus ditambal
dan itupun gak bisa dalam satu kali tindakan langsung selesai. Saya harus bolak
balik selama lebih kurang 3 kali tindakan untuk bisa tambal permanen.
Awalnya deg deg-an banget begitu menginjakkan kaki di Klinik Petanu Medical Center yang berlamat di Jl. Tukad Petanu no 9c, Panjer, Denpasar Selatan. Apalagi ketika mendengar pintu ruangan periksa berderit
dan asisten dokter memanggil satu persatu nama pasien, hmm rasanya jantung
berdetak lebih kencang. Sembari menunggu giliran dipanggil, perang bathin
dahsyat berkecamuk dalam pikiran saya. *Le go to the bhay, Lebay maksimal* Saya
takut, deg degan banget, tangan terasa dingin. Tapi, akal sehat dalam diri
mencoba berontak, “Apa sih yang ditakutin, toh orang yang sudah keluar dari
ruangan periksa nggak kenapa-kenapa kok”, “kalau memang sakit, palingan cuma
bentar kok” ,“Pilih mana, mendem sakit gigi terus menerus atau nahan sakit
sebentaaar aja waktu dilakukan tindakan sama dokter”.
Akhirnya, tibalah giliran saya dipanggil. Dokternya
ramah dan sebelum dipersilakan duduk di kursi eksekusi, saya ditanya dulu
keluhannya apa. Setelah duduk di kursi periksa, langkah awal yang dilakukan
dokter adalah membersihkan sisa makanan yang menempel dan terjebak di lobang
gigi. Dokter memasukkan alat kecil yang ada pengait di ujungnya. Nah, di sini
nih yang menimbulkan sensasi kejut. Rasanya ngilu dan agak snut-snut. Setelah
dibersihkan kemudian diberi tambalan
sementara dulu. Setelah 1 minggu kontrol lagi. Jika dalam rentang waktu itu
nggak ada sakit atau nyeri, maka baru bisa dilakukan tindakan tambal gigi
permanen.
Dokter memasukkan sesuatu ke dalam gigi yang
berlobang, kemudian ditutup dengan bahan seperti semen yang warnanya putih
kemudian ditekan-tekan yang membuat sensasi ngilu tersendiri. Setelah itu
dokter menyuruh saya menekan-nekan tambalan tadi dengan gigi (mengatupkan gigi)
untuk mengecek tambalannya sudah rata atau belum, tambalannya terasa mengganjal
atau nggak. Kalau masih terasa ganjel, dokter akan meratakannya lagi. Selesai deh, proses tambalannya.
Hmm, untung pakai BPJS. Coba kalau biaya mandiri, Fyuh, bisa kering
saldo rekening saya. Sekali tindakan untuk dokter spesialis memang harganya
lumayan merogoh kocek. Kalau 2 atau 3 kali bolak balik dokter gigi, bayangkan
aja sekian ratus ribu melayang-layang terbang di udara. .*emak-emak banget kan?*
Tambal gigi itu sakit gak? Kalau sakit sih ngak ya,
cuma suara bornya itu yang bikin saya merinding. Hihi. Prosesnya kira-kira 20
menitan untuk ditambal. Untuk tambal permanen, tambalan sementaranya harus
dibor lagi. Nah, proses pengeboran yang kedua ini agak terasa ngilu daripada
yang pertama. Setelah ditambal permanen,
Alhamdulillah nggak pernah sakit lagi.
Dokternya berpesan kalau gigi yang disebelahnya sudah
berlobang parah dan gak bisa diselamatkan dengan cara ditambal, harus dicabut
karena hanya tinggal bagian pinggirnya saja. Sedangkan bagian dalamnya sudah
habis terkikis. Harus dicabut secepatnya. Kalau nggak segera dicabut nanti akan
melebar ke gigi lainnya.
Tapi tindakan cabut gigi juga gak bisa sekarang karena
untuk peserta BPJS hanya bisa dilakukan 1 kali tindakan per kunjungan.
Selain itu, kondisi gigi yang gak menungkinkan untuk dicabut saat itu juga
karena gusi yang bengkak. Saya diresepkan obat penghilang bengkak saja. Lagian
saya juga belum siap mental untuk dicabut saat itu juga. Nanti setelah obatnya
habis dan saya siap mental, silakan datang kembali. Karena cabut gigi juga
harus dalam keadaan yang fit, tensi harus normal. Pokoknya siap mental, begitu
pesan dokternya.
Nah, buat kamu
yang mau ke dokter gigi untuk tambal, gak usah takut karena gak sakit-sakit
banget kok. Bagi kamu yang belum pernah sih memang deg deg an, tapi setelah
selesai ditambal, kamu bakal bergumam, “Oh, ternyata rasanya biasa aja kok”.
Cuma sedikit ngilu dan snut snut dikiiit, itu pun masih bisa ditolerir kok.
Saya paham kok, gimana perasaan kamu, deg deg an kan?
Apalagi yang baru pertama mau ke dokter gigi, pasti ngerasa takut banget. Takut
kalao tambal gigi itu bakal sakit banget. Kenyataannya? Nggak gitu juga
keleussss!.
Beraniin diri aja, kalo kamu takut dan menunda
menambal gigi, efeknya bisa lebih buruk lagi. Sisa makanan akan semakin banyak
tertinggal di lobang gigi, lobangnya pun akan semakin membesar dan sisa makanan
akan membusuk di gigi. Perawatannya pun akan lebih lama. Rasa sakitnya juga akan
lebih terasa karena dokter harus mengorek-orek gigi lebih dalam lagi. Jadi, sebaiknya segera ke dokter jika gigimu
sudah mulai terlihat tanda-tanda bakal muncul lobang daripada dilanda kegalauan
berkepanjangan karena memikirkan rasa sakit ketika dilakukan tindakan atau ketika kamu dilanda rasa sakit gigi yang
sungguh sangat menyiksa. Ya kan?

EmoticonEmoticon