Memantik Minat Baca Anak agar Melek Literasi, Let’s Read

“Bundo,
baca buku, yuuk"
Masih
terekam jelas di ingatan saya kejadian tahun lalu, kata-kata yang sering
diucapkan anak lima tahun ini kalau ia ingin dibacakan buku.
Tengah
malam kalau terbangun, ia merengek minta dibacakan buku lagi. Kebayang kan
tengah malam mata sepet dibawa baca buku? Gak fokus, buuk. Terus yang bikin
"horor" adalah kalau saya salah baca, dia protes karena sudah hafal
ceritanya saking seringnya dibacakan. Bagian ini jauh lebih horor
daripada dikoreksi dosen saat sidang skripsi. Haha.
Ritual
sebelum tidur yang kami biasakan adalah membaca buku. Awalnya minta dibacain
satu buku saja, tapi sudah habis 3 jilid anaknya masih belum merem,
dia minta lagi dan lagi. Kadang saya sedang memasak atau mengerjakan pekerjaan
rumah lainnya pun, dia minta dibacakan buku. Akhirnya semua pekerjaan
terbengkalai, tumpukan piring kotor yang harus dicuci, cucian yang
melambai-lambai, belum lagi setrikaan yang harus diselesaikan.
Tapi,
itu dulu. Sekarang si gadis lima tahun ini sudah bisa membaca mandiri. Ia sudah
sangat menikmati "bercengkerama" dengan buku-bukunya. Kami sama
sekali tidak memaksanya untuk bisa membaca dan mengeja kata di usia dini, yang
kami tanamkan hanyalah kebiasaan suka buku sejak dini. Bisa membaca merupakan
bonus yang ia dapatkan karena suka dengan buku. Alhamdulillah.
Bagaimana
cara menumbuhkan minat baca pada anak dan membuat kegiatan membaca menjadi
sangat menyenangkan?
1. Membiasakan Anak Berinteraksi dengan Buku sejak Dini
Saya pribadi mencoba mengenalkan anak dengan buku sejak usainya 1 tahun. Buku anak pertama yang saya beli untuk Zifa adalah buku BBW. Tahun 2016, Big Bad Wolf ( BBW) yang merupakan bazar buku superbesar hadir di Jakarta dan saya bela-belain beli buku lewat Jasa Titip di Instagram dengan menguras habis tabungan dan uang jajan yang diberi suami. 3 buku awal yang saya beli adalah 1 Board Book Flip Flap, 1 Set Board Book Mini dan Ready Set Learn Alphabets. Awalnya saya nggak sadar masuk ke akun Jasa Titip tersebut, bermodal scroll feed eh akhirnya tersesat di sana dan endingnya saya “teracuni” dengan postingannya. Duuh, maafkan saya yang tersesat di jalan yang benar.
Sejak
saat itu saya mulai mengenalkan buku pada Zifa dengan cara mengajaknya bermain
dengan buku, membolak balik halamannya, melihat gambar-gambar yang ada di
buku dan sesekali membacakan cerita padanya. Responnya gimana? Ketika tahap
awal saya melakukan Read Aloud, dia melengos. Wkwk. Jangan harap anak akan
duduk diam sembari kita membacakannya dari awal sampai akhir halaman. Baru
dibacain sebentar barang 1 atau 2 tarikan nafas aja, anaknya sudah kabur kesana
kemari. Tapi, jangan patah semangat, tetap kenalkan dan tetap bacakan
karena mereka mendengar, with their whole body.
Tahap
pertama perkenalan dengan buku mungkin anak antengnya sebentar saja, tapi lama
kelamaan mereka akan terbiasa dan mereka akan sangat menikmati bermain dengan
buku. Jadikan aktivitas membaca sebagai kegiatan yang menyenangkan, jadikan
buku sebagai kawan bermain yang seru untuknya. Kita tak harus menetapkan target
muluk-muluk, tak perlu berambisi untuk membuat anak bisa baca di usia dini.
Target utamanya adalah suka buku kalau anak sudah suka, maka dia akan mencari
tahu bagaimana caranya untuk bisa membaca. Percayalah, anak-anak kita hanya
butuh pembiasaan untuk bisa jatuh cinta dengan buku.
2. Sediakan Buku Bacaan yang Sesuai dengan Rentang Usia Anak
Tak
hanya film, buku juga ada rating umurnya, lho. Pada usia Balita anak akan
sangat tertarik dengan warna yang cerah. Sediakan mereka buku- buku dengan
warna dan ilustrasi menarik, namun minim tulisan (wordless book). Lalu,
biarkan mereka berimajinasi sendiri dengan apa yang mereka lihat.
Selain
Wordless book, pastikan juga buku anak terbuat dari bahan yang kokoh dan tidak
mudah sobek, yap, Board Book (buku yang terbuat dari kertas karton) adalah
pilihan tepat sebagai langkah awal perkenalannya dengan buku.
Selain
board book dari BBW, Board book lainnya yang saya punya untuk Zifa adalah
Buku Paket Halo Balita. 1 paketnya berisi 25 jilid buku dengan tema yang
beragam. Kebayang kan, buku yang awalnya cuma segenggaman jari dari BBW,
tiba-tiba ditambah dengan segabruk buku yang langsung membuat rumah serasa
perpustakaan pribadi. Review Halo Balita bisa dibaca di postingan dengan label Review.
3. Letakkan Buku di Tempat yang Mudah diakses
Saya
meletakkan buku di tempat yang mudah untuk diakses anak. Layaknya mainan,
mereka tidak perlu minta bantuan orang tua saat mereka ingin bermain dengan
buku. Sebelum punya rak buku, saya meletakkan buku di dalam dus yang bagian
atasnya dibiarkan terbuka. *anggap aja lemari buku ya, nak* Kemudian setelah
punya rak buku sederhana, bukunya pindah rumah ke tempat yang lebih layak.
Di
semua sudut rumah kontrakan kecil kami akan ada buku bergelimpangan. Di kasur
ada buku, di rak piring ada buku, di tumpukan baju yang baru dicuci pun ada
buku. Buku- buku ini malamnya sudah dirapikan, tapi ketika pagi mereka akan
berpindah tempat, mereka pasrah dibawa kemana saja oleh pembaca ciliknya.
Jangan ditanya seberapa berantakannya rumah kost kami, kayak kapal yang
dirompak bajak laut.
4. Childreen See, Children Do
Anak sejatinya adalah peniru ulung, mereka akan mencontoh apa yang mereka lihat dalam
kesehariannya. Peran orang tua sangat penting dalam membiasakannya dekat dengan
buku. Jadilah panutan utama bagi mereka. Akan sangat sulit mengharapkan anak
jadi suka membaca jika kita sebagai orang tuanya jarang baca buku. Anak perlu
contoh nyata dari orang tuanya bahwa membaca itu sebegitu mengasyikkan.
Bahkan
setelah punya buku pun, tugas orang tua tak berhenti sampai disitu saja. Ada
tugas besar yang mesti ditunaikan, menjadikan buku sebagai bagian dari
keseharian kita. Percayalah, tak ada satu buku pun yang akan membuat anak suka
membaca dalam sekejap, buku sakti sekalipun. Begitu anak disodorkan buku mereka
tidak ujug-ujug jadi suka dan gila membaca kalau hanya dibiarkan saja tanpa support
system dari kita. Butuh usaha dan peran orang tua di dalamnya karena kita
adalah garda terdepan dalam mengawali perjalanannya untuk suka membaca.
Segudang
buku-buku yang kita sediakan akan membawa mereka berpetualang kemana saja, ke
seluruh penjuru dunia.
5. Membaca Bersama Anak di Aplikasi Let’s Read
Belakangan
ini Zifa sering minta dibelikan buku padahal baru 3 hari yang lalu kami
membelikan buku untuknya. Buku seri dongeng negeri buah 15 jilid habis dilahap
dalam 2 hari. Setelah buku bacaan habis, dia menodong kami lagi untuk beli
buku. “Buku yang kemaren sudah selesai dibaca, sudah seriiing diulang-ulang. Adek jadi
bosan bacanya ituuuu aja teruuusss”, begitu rengeknya.
Beruntung sekarang ada aplikasi Let’s Read yang menyediakan berbagai bacaan untuk anak, jadi saya punya stok bacaan ketika anak merengek minta beli buku (lagi). Dengan mengunduh aplikasinya, dijamin kita tidak akan kehabisan bahan bacaan. Aplikasi Let's Read ini diprakarsai oleh Books for Asia dari The Asia Foundation yang bertujuan menumbuhkan para pembaca cilik di Asia
Mengapa Membaca di Let’s Read?.Ada beberapa alasan mengapa kami membaca di Let’s Read
1. Bacaannya Banyak

Buku
bacaan yang disediakan di sini sangat banyak. Mulai dari level awal sampai
level 5. Semakin tinggi level yang dipilih maka semakin banyak tulisannya dan
semakin panjang ceritanya. Pilihan temanya juga beragam, ada tema Superhero dan
Adventures yang biasanya digandrungi anak laki-laki dan ada tema persahabatan
yang biasanya disukai anak perempuan. Temanya banyak, bisa di sesuaikan dengan
minat anak. Selain itu, pilihan bahasanya pun banyak, bahasa Indonesia, bahasa
Inggris, serta bahasa daerah, keren kan? Jadi, selain membaca kita juga
bisa belajar bahasa daerah. Semua buku bacaan serasa ada dalam genggaman.
2. Bisa di unduh Gratis dan Bisa Dicetak
Semua
cerita di Let’s Read ini bisa diunduh secara gratis dengan format PDF dan
nantinya bisa dibaca tanpa harus terkoneksi internet. Selain itu juga bisa
dicetak, tapi bukan untuk dikomersilkan ya. Dengan adanya aplikasi Let’s Read
ini tentunya anak tak akan kehabisan buku untuk dibaca.
3. Ilustrasinya Menarik
Kalau
ditilik buku anak itu ilustrasinya menarik dan eye catching banget, kan? Karena
fokus utama anak saat disodorkan buku adalah gambarnya apalagi anak yang belum
bisa membaca. Mereka lebih tertarik dengan gambar dan kemudian akan mengoceh
sendiri dengan bahasa mereka seperti yang terjadi pada Zifa ketika dia belum
bisa membaca.
4. Solusi Praktis Saat Bepergian
Kebayang
kan kalau Travelling? Beuh, pasti bawaanya segambreng, bawa barang aja udah
banyak ditambah lagi dengan buku bacaan. Nah, disaat seperti ini Let’s Read
bisa diandalkan, lho. Kita tak harus membawa buku untuk menemani anak, cukup
dengan aplikasi yang sudah diunduh, kita bisa menciptakan kegiatan membaca
bersama anak. Praktis, kan?
Bagaimana,
tertarik untuk mengunduhnya karena banyak keunggulannya? Yuk, kita tanamkan
minat baca sejak dini pada anak agar kelak mereka tumbuh menjadi generasi melek
literasi, bukan generasi yang gagap literasi. Aplikasi Let’s Read ini sangat cocok
dijadikan media untuk memantik minat baca anak.
Aplikasi Let's Read bisa di unduh di sini https://bit.ly/downloadLR.
Aplikasi Let's Read bisa di unduh di sini https://bit.ly/downloadLR.
![]() |
Unduh Aplikasi Let's Read |
Kehadiran
Let’s Read semoga bisa memantik dan mendongkrak minat baca anak-anak
Indonesia karena menurut laporan PISA (Programme for International
Student Asessment) 2019, skor membaca Indonesia ada di peringkat 72 dari 77
negara. Sungguh miris sekali.
Semoga
dengan adanya Let’s Read ini bisa membawa perubahan untuk menggeser posisi
Indonesia agar berada di papan atas skor PISA. Yuk, lakukan perubahan dengan
memulainya dari keluarga kita, dari hal yang paling kecil dan dimulai saat ini
juga.
"Children
are made readers on the laps of their parents."
-Emilie
Buchwald
Sumber
bacaan:
https://www.liputan6.com/global/read/4126480/skor-terbaru-pisa-indonesia-merosot-di-bidang-membaca-sains-dan-matematika







1 komentar
aplikasinya bisa sekalian buat anak belajar bahasa asing ya..seru..
EmoticonEmoticon